Kamis, 23 November 2017

Great Wisdom


Great Wisdom...

Emosi pria mempengaruhi karirnya.
Emosi wanita mempengaruhi pernikahannya.
Setiap hari bacalah artikel ini sekali.
Perlahan diri anda akan berubah.

Di Thailand ada orang legendaris bernama Bai Long Wang (Raja Naga Putih), berkata: "Asalkan bisa mengatur emosi dengan baik, maka hal-hal duniawi pun akan lancar."
Banyak orang berkonsultasi tentang kelancaran masa depan bisnisnya, rumah tangganya, anak-anaknya, atau pernikahannya. Saya hanya menjawab dengan satu pertanyaan, "Bagaimana dengan emosi anda, baik atau tidak?".

Sepanjang hidupnya manusia selalu belajar bagaimana "menjadi orang". Ini adalah materi pelajaran seumur hidup yang tidak ada istilah kelulusan. Tidak peduli kaum ilmuwan, petani, pekerja, maupun pedagang, semuanya sama. "Asalkan mau belajar, pasti akan maju."

Beberapa pelajaran dalam hidup:
1. Belajar meminta maaf
Seringkali manusia tidak mau mengakui kesalahannya, menganggap semuanya adalah kesalahan orang lain, dan dirinya sendiri yang benar. Sebenarnya "tidak bisa mengakui kesalahan" merupakan suatu kesalahan. Kita harus bisa meminta maaf kepada orang tua, rekan kerja, masyarakat, bahkan kepada anak-anak dan musuh kita. Meminta maaf tidak akan membuat kita kekurangan apapun, malahan bisa menunjukkan kelapangan hati kita.
"Belajar meminta maaf adalah hal yang baik dan merupakan suatu bentuk pelatihan diri."

2. Belajar kelembutan hati
Gigi kita keras, namun lidah kita lembut. Saat kita menua, gigi akan tanggal, sedangkan lidah kita tetap ada. Jadi kita harus bisa lembut, barulah bisa panjang umur. Sifat keras hati malah merugikan diri kita. Hati yang lembut merupakan pencapaian besar dalam hidup manusia. Orang yang keras kepala biasanya dijuluki berhati dingin, sifatnya dingin, atau hatinya keras seperti besi.
Jika kita bisa mengatur nafas, mengatur postur tubuh, dan mengatur hati kita, ibarat kita menenangkan kuda liar atau monyet liar supaya jinak, maka hidup kita akan lebih bahagia dan panjang umur.

3. Belajar menahan diri
Dalam hidup ini, jika kita bisa "menahan emosi, badai dan ombak pun akan reda" (tiada masalah). "Mundur selangkah, melihat langit dan laut masih luas" (tiada masalah). Dengan menahan diri, semua masalah bisa dibereskan. Menahan diri berarti bisa memakai kebijaksanaan untuk mengatur dan mengubah masalah besar menjadi masalah kecil, dan masalah kecil menjadi tiada masalah. Jika kita mau hidup dengan damai, kita harus bisa menahan diri terhadap kebaikan dan keburukan dunia dan masyarakat serta gosip-gosip di masyarakat. Bahkan kita bisa menerimanya (memakluminya).

4. Belajar berkomunikasi
Kurangnya komunikasi bisa menimbulkan gosip, perselisihan, dan kesalahpahaman. Hal terpenting dalam hidup bermasyarakat adalah bisa berkomunikasi dengan baik, saling memahami, toleransi, saling membantu. Kita semua adalah saudara, jika selalu bertikai dan miskomunikasi, maka tidak akan bisa hidup berdampingan dengan damai.

5. Belajar melepas (tidak melekat)
Hidup kita ibarat sebuah koper yang diangkat saat perlu dan ditaruh saat tidak perlu. Saat harus melepas, jika kita malah melekatinya, maka seperti mengangkat koper yang berat dan tidak bisa bebas leluasa. Hidup manusia ada batasnya. Belajar mengakui kesalahan, menghargai orang lain, dan memaklumi orang lain, barulah kita bisa diterima oleh orang lain. Belajar melepas barulah kita bisa bebas leluasa.

6. Belajar merasa terharu
Saat melihat kebaikan orang lain, kita merasa senang melihat orang baik dan hal-hal baik, dan kita merasa terharu. Bisa merasa terharu adalah suatu bentuk kasih sayang. Dalam hidup banyak hal dan kata-kata yang bisa membuat kita terharu. Jadi kita pun harus berusaha supaya bisa membuat orang lain terharu (dengan berbuat hal-hal baik dan berkata-kata baik).

7. Belajar bertahan hidup
Untuk bertahan hidup, kita harus menjaga kesehatan. Tubuh sehat tidak hanya menguntungkan diri sendiri, tetapi juga membuat teman dan keluarga kita merasa tenang. Menjaga kesehatan juga merupakan suatu bentuk bakti kepada orang tua.



Sent from The Milky Way

Kamis, 19 Oktober 2017

Hanya ada 3 hari dalam Hidup


HANYA ADA 3 HARI DALAM HIDUP INI....

Yang Pertama :
HARI KEMARIN...
Kamu tak bisa mengubah apapun yang telah terjadi...
Kamu tak bisa menarik perkataan yang telah terucapkan....
Kamu tak mungkin lagi menghapus kesalahan..
dan mengulangi kegembiraan yang kamu rasakan kemarin...
Biarkan hari kemarin lewat;
LEPASKAN saja....

Yang kedua :
HARI ESOK...
Hingga mentari terbit esok hari,,,
Kamu tak tahu apa yang akan terjadi...
Kamu belum bisa melakukan apa-apa untuk esok hari...
Kamu tak mungkin tahu.. sedih atau ceria di esok hari...
Karena esok hari belum tiba,,,,
BIARKAN saja...

Yang tersisa kini hanyalah
Yang ketiga :
HARI INI...
Pintu masa lalu telah tertutup...
Pintu masa depanpun belum tiba...
Pusatkan saja dirimu untuk hari ini...
Kamu dapat mengerjakan lebih banyak hal untuk hari ini...,
Bila kamu mampu melupakan hari kemarin...
Dan melepaskan ketakutan akan esok hari...

Hiduplah HARI INI...
Karena, masa lalu.. dan masa depan.. hanyalah permainan pikiran yang rumit....

Hiduplah apa adanya...

Karena yang ada hanyalah hari ini...

Perlakukan setiap orang dengan kebaikan hati.. dan rasa hormat..

Meski mereka berlaku buruk pada kepadamu...

Sayangilah seseorang sepenuh hati hari ini.., karena mungkin besok cerita sudah berganti....

Ingatlah bahwa kamu menunjukkan penghargaan pada orang lain... bukan karena siapa mereka... tetapi karena siapakah dirimu sendiri....

Jadi,,,, jangan biarkan masa lalu mengekangmu...

Atau masa depan membuatmu bingung....

Apapun juga yang kamu perbuat.. perbuatlah dengan segenap hatimu... Sepenuh jiwa ragamu..

Have a good day friends...


Sent from The Milky Way

Rabu, 03 Februari 2016

good story

SECANGKIR TEH SELAMAT DATANG

Sebuah kelompok berisikan 15 orang tentara yang dipimpin oleh seorang mayor sedang berjalan menuju sebuah pos di pegunungan Himalaya. Disana mereka akan ditempatkan selama tiga bulan ke depan. Kelompok tentara lainnya yang akan dibebastugaskan menunggu mereka dengan gelisah.

Cuaca yang dingin dan salju yang turun sesekali membuat pendakian yang berbahaya itu terasa semakin sulit. Andai saja ada yg berjualan teh, demikian pikir sang Mayor, tentu akan mengurangi kepenatan mereka, meskipun ia tahu itu adalah harapan yang sia-sia belaka.

Mereka melanjutkan perjalanan lagi selama satu jam, hingga akhirnya mereka menemukan sebuah bangunan tua yang sudah bobrok. Bangunan itu nampaknya seperti sebuah kedai teh, namun pintunya terkunci. Saat itu hari sudah larut malam.

"Tidak ada teh, sial", kata sang Mayor kepada kelompoknya. Namun ia menyarankan seluruh tim untuk beristirahat sejenak karena mereka sudah berjalan selama tiga jam.

"Pak, ini adalah kedai teh dan kita dapat membuat teh. Sebaiknya kita rusak saja kuncinya", saran salah satu anak buahnya. Sang Mayor pun menemui dilema terhadap saran yang tidak etis itu, namun memikirkan secangkir teh yang hangat untuk kelompoknya yang sudah kelelahan membuatnya memberikan izin.

Mereka beruntung, kedai tersebut memiliki seluruh barang yang mereka butuhkan. Di dalamnya mereka menemukan teh dan peralatan untuk memasaknya. Disamping itu mereka masih menemukan beberapa bungkus biskuit. Para tentara yang kelelahan itu segera minum teh dan makan biskuit. Setelah penat hilang dan tubuh mereka segar kembali, kemudian mereka siap untuk melanjutkan sisa perjalanan mereka.

Sang Mayor berpikir, mereka sudah merusak kunci serta menikmati teh dan biskuit tanpa izin dari pemiliknya. Tetapi mereka bukanlah sekelompok pencuri. Lalu ia mengambil Rs 1000 dari dompetnya, meletakannya di atas meja, ditindih dengan stoples gula, sehingga sang pemilik dapat melihatnya. Sang Mayor pun merasa terbebas dari tanggung jawab moral. Ia memerintahkan anak buahnya untuk menutup kembali kedai tersebut dan mereka lalu melanjutkan perjalanan.

Tiga bulan telah berlalu. Mereka tanpa pantang menyerah melakukan pekerjaan mereka. Sampai akhir dinas mereka di pegunungan itu, untungnya tidak ada seorang pun yang menjadi korban dalam situasi pemberontakan yang kacau itu.

Tibalah saatnya bagi tim lain untuk menggantikan mereka. Sewaktu dalam perjalanan pulang, mereka singgah di kedai teh yang sama. Kebetulan pada saat itu kedai buka dan pemiliknya sedang menunggu di sana.

Pemilik kedai teh yang sepi itu dengan senang hati menyambut 15 orang pelanggannya itu. Mereka semua memesan teh dan biskuit. Mereka berbincang dengan orang tua itu mengenai kehidupnnya dan pengalamannya berjualan teh di tempat yang terpencil itu. Si orang tua memiliki banyak cerita, terutama mengenai keyakinan pribadinya terhadap Tuhan.

"Bapak, jika Tuhan itu ada, mengapa Ia tidak mengeluarkanmu dari kemiskinan seperti ini ?", komentar salah seorang dari mereka. "Jangan berkata seperti itu, Sahib ! Tuhan itu nyata. Saya sudah mendapatkan buktinya tiga bulan yang lalu."

"Saya sedang sangat kesulitan pada saat itu karena anak saya satu-satunya dipukuli hingga babak belur oleh teroris yang menginginkan informasi darinya, yang sesungguhnya ia ia pun sama sekali tidak mengetahuinya. Saya menutup kedai saya dan membawa anak saya ke rumah sakit. Ada obat yang harus saya tebus, tetapi saya tidak punya uang. Tidak ada satu orang pun mau memberi saya pinjaman, karena mereka takut akan teroris. Saat itu saya benar-benar putus asa."

"Hari itu, saya berdoa kepada Tuhan, dan Tuhan datang ke kedai saya hari itu.". "Saat saya kembali ke kedai, saya menemukan gemboknya dirusak. Saya merasa hancur. Saya kehilangan semua yang saya miliki. Tetapi saya menemukan Tuhan meninggalkan Rs 1000 di bawah stoples gula. Saya tidak bisa menjelaskan betapa berharganya uang itu pada saat itu. Tuhan itu nyata, Sahib."

Keteguhan keyakinannya terpancar dr matanya. Lima belas pasang mata semua menatap sang Mayor, dan dengan jelas membaca kode dari atasan mereka, "Diam !"

Sang Mayor kemudian bangun dan membayar tagihannya. Dia memeluk orang tua itu dan berkata, "Ya, Bapak. Saya tahu Tuhan itu nyata dan tehnya sangat nikmat. Kemudian ada lima belas pasang mata yang hampir tidak dapat membendung air mata mereka masing-masing melihat sang Mayor dan si orang tua itu. Sungguh sebuah pemandangan yang langka.

Jadi dari cerita di atas, kenyataannya tidak lain, kita semua bisa menjadi "Tuhan" bagi siapa saja.



Sent from The Milky Way

Selasa, 19 Januari 2016

javanese wisdom

Falsafah wong JOWO by Ronggo Warsito :

Rejeki iku ora iså
ditiru..
REJEKI ITU TIDAK BISA
DITIRU..

Senajan pådå lakumu
WALAU SAMA
JALANMU

Senajan pådå dodolan mu,
WALAU SAMA
JUALANMU

Senajan pådå nyambut gawemu.
WALAU SAMA
PEKERJAANMU...

Kasil sing ditåmpå bakal bedå2....,
HASIL YANG
DITERIMA AKAN BERBEDA
SATU SAMA LAIN

Iså bedå nèng akèhé båndhå,
BISA LAIN DALAM
BANYAKNYA HARTA

Iså ugå ånå nèng Råså lan Ayemé ati, Yåaa iku sing jenengé bahagia....
BISA LAIN DALAM
RASA BAHAGIA DAN
KETENTERAMAN HATI

Kabèh iku såkå tresnané Gusti kang måhå kuwåså.....,
SEMUA ITU ATAS
KASIH DARI TUHAN YANG
MAHA KUASA

Såpå temen bakal tinemu,
BARANG SIAPA BER-
SUNGGUH2 AKAN
MENEMUKAN

Såpå wani rekåså bakal nggayuh mulyå.
BARANG SIAPA BERANI
BERSUSAH PAYAH
AKAN MENEMUKAN
KEMULIAAN

Dudu akèhé, nanging berkahé kang dadèkaké cukup lan nyukupi.....
BUKAN BANYAKNYA
MELAINKAN BERKAH
NYA YANG MENJADIKAN
CUKUP DAN
MENCUKUPI

Wis ginaris nèng takdiré menungså yèn åpå sing urip kuwi wis disangoni såkå sing kuwåså.
SUDAH DIGARISKAN
OLEH TAKDIR BAHWA
SEMUA YANG HIDUP
ITU SUDAH DIBERI
BEKAL OLEH YANG
MAHA KUASA

Dalan urip lan pangané wis cemepak cedhak kåyå angin sing disedhot bendinané....,
JALAN HIDUP
DAN REJEKI SUDAH
TERSEDIA.. DEKAT..
SEPERTI UDARA YANG
KITA HIRUP SETIAP
HARINYA

Nanging kadhang menungså sulap måtå lan peteng atiné, sing adoh såkå awaké katon padhang cemlorot ngawé-awé,
Nanging sing cedhak nèng ngarepé lan dadi tanggung jawabé disiå-siå kåyå orå duwé gunå
TETAPI KADANG
MANUSIA SILAU MATA
DAN GELAP HATI,
YANG JAUH KELIHATAN
BERKILAU DAN
MENARIK HATI..
TETAPI YANG DEKAT
DIDEPANNYA DAN
MENJADI TANGGUNG
JAWABNYA DISIA SIA
KAN SEPERTI TAK ADA
GUNA

Rejeki iku wis cemepak såkå Gusti, ora bakal kurang anané kanggo nyukupi butuhé menungså såkå lair tekané pati....,
REJEKI ITU SUDAH
DISEDIAKAN OLEH
TUHAN, TIDAK BAKAL
BERKURANG UNTUK
MENCUKUPI
KEBUTUHAN MANUSIA
DARI LAHIR SAMPAI
MATI

Nanging yèn kanggo nuruti karep menungså sing ora ånå watesé, rasané kabèh cupet, nèng pikiran ruwet, lan atiné marahi bundhet.
TETAPI KALAU
MENURUTI KEMAUAN
MANUSIA YANG TIDAK ADA
BATASNYA, SEMUA
DIRASA KURANG
MEMBUAT RUWET DI HATI
DAN PIKIRAN

Welingé wong tuwå, åpå sing ånå dilakoni lan åpå sing durung ånå åjå diarep-arep, semèlèhké atimu, yèn wis dadi duwèkmu bakal tinemu, yèn ora jatahmu, åpå maneh kok ngrebut såkå wong liyå nganggo cårå sing ålå, yå waé, iku bakal gawé uripmu lårå, rekåså lan angkårå murkå sak jeroning kaluwargå, kabeh iku bakal sirnå balik dadi sakmestiné.
PETUAH ORANG TUA,
JALANILAH APA YANG
ADA DIDEPAN MATA
DAN JANGAN TERLALU
BERHARAP LEBIH UNTUK
YANG BELUM ADA

KALAU MEMANG
MILIKMU PASTI AKAN
KETEMU..
KALAU BUKAN JATAHMU..
APALAGI SAMPAI
MEREBUT MILIK ORANG
MEMAKAI CÀRA TIDAK
BAIK, ITU AKAN
MEMBUAT HIDUPMU
MERANA, SENGSARA
DAN ANGKARA MURKA
SEMUA ITU AKAN SIRNA
KEMBALI KE ASALNYA

Yèn umpåmå ayem iku mung biså dituku karo akèhé båndhå dahnå rekasané dadi wong sing ora duwé.
SEUMPAMA
KETENTERAMAN ITU
BISA DIBELI DENGAN
HÀRTA, ALANGKAH
SENGSARANYA ORANG
YANG TIDAK PUNYÀ

Untungé ayem isà diduwèni såpå waé sing gelem ngleremké atiné ing bab kadonyan, seneng tetulung marang liyan, lan pasrahké uripé marang GUSTI KANG MURBENG DUMADI…

UNTUNGNYA,
KETENTERAMAN BISA
DIMILIKI OLEH SIAPA
SAJA YANG TIDAK
MENGAGUNGKAN
KEDUNIAWIAN, SUKA
MENOLONG ORANG
LAIN DAN
MENYERAHKAN
HIDUPNYA KEPADA
TUHAN SANG
PENCIPTA

Sent from The Milky Way

Minggu, 17 Januari 2016

cerita berantai yang fatal

Cerita Berantai yang Fatal

1. Sehabis pulang dari sawah, kerbau rebahan di kandang dengan wajah capek dan nafas yang berat. Datanglah anjing. Kerbau lalu berucap :
"Ahh teman lama, aku sungguh capek dan besok mau istirahat sehari".

2. Anjing pergi dan jumpa kucing di sudut tembok, dan berkata :
"Tadi saya jumpa kerbau, dia besok mau istirahat dulu.
Pantaslah, sebab boss kasih kerjaan terlalu berat sih".

3. Kucing lalu cerita ke kambing dan berkata :
"Kerbau komplain boss kasih kerja terlalu banyak & berat. Besok gak mau kerja lagi".

4. Kambing jumpa ayam dan berucap :
"Kerbau gak suka kerja untuk boss lagi, sebab mungkin ada boss lain yang lebih baik".

5. Ayam jumpa monyet dan berkata : "Kerbau gak akan kerja untuk bossnya dan ingin cari kerja di tempat yang lain".

6. Saat makan malam monyet jumpa boss dan berkata :
"Boss, si kerbau akhir-akhir ini sudah berubah sifatnya dan mau meninggalkan boss untuk kerja dengan boss lain."

7. Mendengar ucapan monyet, boss marah besar dan membunuh si kerbau karena dinilai telah mengkhianatinya.

Ucapan asli kerbau :
"SAYA SUNGGUH CAPEK, DAN BESOK MAU ISTIRAHAT SEHARI".

Lewat beberapa teman akhirnya ucapan ini sampai ke boss dan pernyataan kerbau telah berubah menjadi :
"Si Kerbau akhir-akhir ini telah berubah sifatnya dan mau meninggalkan boss untuk kerja dengan boss lain".

Sangat baik untuk disimak :

• Ada kalanya suatu ucapan harus berhenti (stop) sampai telinga kita saja. Tidak perlu diteruskan ke orang lain.

• Jangan percaya begitu saja apa yang dikatakan orang lain, meskipun itu orang terdekat kita. Kita perlu check & recheck kebenarannya sebelum bertindak.

• Kebiasaan melanjutkan perkataan orang lain dengan kecenderungan menambahi (mengurangi), bahkan menggantinya berdasarkan PERSEPSI SENDIRI bisa berakibat fatal.

• Bila ragu-ragu akan ucapan seseorang yang disampaikan via orang lain, sebaiknya kita langsung bertanya pada yang bersangkutan.

Bila ingin menyampaikan sesuatu kepada orang lain, baik juga memakai 3 kriteria yang harus dipenuhi :
- Apakah benar?
- Apakah baik?
- Apakah berguna?
Bila semua jawabannya "YA", sampaikanlah...

Sent from The Milky Way

Minggu, 03 Januari 2016

pencari bahagia

Seorang pemuda duduk dgn tatapan kosong di samping telaga. Dia sedang galau dan tidak bahagia.

"Sedang apa kau di sini, anak muda?" tanya seorang kakek yang tinggal di sekitar situ.

Anak muda itu menoleh sambil berkata. "Aku lelah, Pak Tua. Aku sdh berusaha mencari kebahagiaan, tapi tak kunjung kudapatkan." keluh si anak muda dengan wajah muram.

"Di depan sana ada sebuah taman. Coba ke sana dan tangkap seekor kupu2.
Setelah itu aku jawab pertanyaanmu," kata si kakek.

Meski ragu, anak muda itu pergi juga ke arah yang ditunjuk.

Tiba di sana, dia takjub melihat taman indah dan kupu2 yang beterbangan.

Si pemuda meng-endap2 menuju sasarannya. Hap..! Sasaran itu luput. Dikejarnya kupu2 ke arah lain. Hap..! Lagi2 gagal. Dia berlari tak beraturan, menerjang rumput, tanaman bunga, semak. Tapi, tak satu pun kupu2 berhasil ditangkapnya.

Si kakek berkata, "Begitukah caramu mengejar kebahagiaan? Sibuk berlari ke sana kemari, menabrak tak tentu arah, bahkan menerobos tanpa peduli apa yang kamu rusak?

Nak, mencari kebahagiaan layaknya menangkap kupu2. Tidak perlu kau tangkap fisiknya, biarkan kecantikannya memenuhi alam semesta ini. Tangkaplah keindahan warna dan geraknya di pikiranmu dan simpan baik2 di dalam hatimu.

Kebahagiaan bukanlah benda yg dapat digenggam dan disimpan. Ia tidak ke mana2, tapi ada di mana2..
Peliharalah baik2, munculkan setiap saat dengan rasa syukur maka tanpa kau sadari kebahagiaan itu akan sering datang sendiri."

Kakek itu mengangkat tangannya. Tak lama, seekor kupu2 hinggap di ujung jari dan mengepakkan sayapnya, memancarkan keindahan ciptaan Tuhan. Warnanya begitu indah, seindah kebahagiaan bagi mereka yang mampu menyelaminya.

Kebahagiaan sesungguhnya tdk jauh, dia ada di setiap hati yg selalu bersyukur. Tdk perlu mencari biarkan dia "datang" sendiri.

Selamat berbahagia...




Sent from The Milky Way

Minggu, 13 Desember 2015

a letter from jack ma

copy from other source :

Surat dari Jack Ma-founder www.alibaba.com

马云写给儿子的一封信,感动无数人!
Sepucuk surat dari Jack Ma kepada putranya yang begitu menggugah banyak orang!

我儿:写这个备忘录给你,基于三个原则:
Anakku : kutulis catatan pendek ini berdasarkan 3 prinsip:

一、人生福祸无常,谁也不知可以活多久,有些事情还是早一点说好。
1. Keberuntungan dan bencana dalam hidup ini tidak ada yang abadi, tidak seorangpun tahu mampu hidup berapa lama, ada sebagian hal sebaiknya kuberitahu lebih awal.

二、我是你的父亲,我不跟你说,沒有人会跟你说。
2. Aku adalah ayahmu, jika saya tidak mengatakannya padamu, maka tdk akan ada yg mengatakannya padamu.

三、这个备忘录记载的,都是我经过惨痛失败得来的体验,可以为你的成长省回不少冤枉路。
3. Catatan kecil ini menuliskan pengalaman yang kudapatkan melalui pahit dan kegagalan, ini bisa menghindari jalan berputar dalam perjalanan pertumbuhan hidupmu.

以下,便是你在人生中要好好记住的事:
Di bawah ini adalah hal-hal yang harus kau ingat baik-baik dalam hidupmu :
01. 对你不好的人,你不要太介意。在你一生中,没有人有义务要对你好,除了我和你妈妈。对你好的人,你一定要珍惜、感恩。
01. Janganlah terlalu memperdulikan orang yang tidak baik terhadapmu Di dalam hidupmu.
tidak ada seorangpun berkewajiban baik terhadapmu, terkecuali ayah ibumu.
Terhadap orang yang baik kepadamu, haruslah senantiasa bersyukur dan kamu hargai.

02. 没有人是不可代替的,没有东西是必须拥有的。看透了这一点,将来就算你失去了世间最爱的一切时,也应该明白,这并不是什么大不了的事。
02.Tidak ada orang yang tak tergantikan, tak ada benda yang wajib dimiliki. Ketika mengerti hal ini, kelak seandainya kau kehilangan semua yang sangat berarti dan kau cintai, kau akan tetap akan memahami, ini semua bukanlah perkara besar.

03. 生命是短暂的,今天或许还在浪费着生命,明天就会发觉生命已远离你。因此,愈早珍惜生命,你享受生命的日子也会愈多。与其盼望长寿,倒不如早点享受。
03.Kehidupan ini begitu sementara, sampai hari ini mungkin kita masih menyia-nyiakan kehidupan, ketika esok hari,barulah menyadari kehidupan telah jauh meninggalkan kita. Karena itu, hargai kehidupan mu sedini mungkin, bila kamu menghargai hari-harimu maka kamu bisa menikmati kehidupanmu akan semakin banyak. Daripada mengharapkan umur panjang, lebih baik bisa mengerti dan menghargai nya.

04. 爱情只是一种感觉,而这感觉会随时间、心境而改变。如果你所谓的最爱离开你,请你耐心地等待一下,让时间慢慢冲洗,让心灵慢慢沉淀,你的苦就会慢慢淡化。不要过分憧憬爱情的美,不要过分夸大失恋的悲。
04.Cinta kasih hanyalah sebuah perasaan, dan perasaan ini akan berubah mengikuti waktu dan keadaan. Jika seseorang yang begitu kau cintai meninggalkanmu, bersabarlah menunggu sebentar, biarkan waktu perlahan membersihkannya, biarkan perlahan mengendap, rasa pahitnyapun akan perlahan2 menjadi hambar. Janganlah berlebihan mengharpkan keindahan cinta, janganlah juga berlebihan larut dalam sedih patah hati.

05. 虽然很多有成就的人没有受过太多的教育,但并不等于不用功读书,也可以成功。你学到的知识,就是你拥有的武器。人可以白手起家,但不可以手无寸铁,紧记!
05.Meskipun banyak orang sukses yang tidak mendapatkan terlalu banyak pendidikan, bukan berarti tidak giat belajarpun bisa berhasil. Pengetahuan yang kau dapatkan adalah senjata atau alat yang kau miliki. Kita boleh membangun semua dari nol, tapi tidak dengan tangan kosong. Ingatlah baik-baik!

06. 我不会要求你供养我下半辈子,同样的我也不会供养你的下半辈子。当你长大到可以独立的时候,我的责任已经完结。今后无论你坐巴士还是奔驰,吃鱼翅还是粉丝,都要自己负责。
06.Aku tidak akan memintamu mengurus masa tuaku, sama halnya denganku yang tidak akan mengurus masa tuamu. Ketika kau dewasa dan mandiri kelak, kewajibanku selesai. Selanjutnya apakah kamu naik kendaraan umum atau mercedez benz, menyantap sirip ikan atau bihun, semuanya harus kau pertanggung jawabkan nya sendiri.

07. 你可以要求自己守信,但无法要求别人也守信;你可以要求自己对他人好,但不能期待人家也对你好;你怎样待人,并不代表人家就会怎样待你,如果你看不透这一点,只会给你增添不必要的烦恼。
07.Kamu harus menuntut dirimu untuk menjaga kepercayaan, tapi tidak dapat menuntut orang lain melakukan hal yang sama; kamu boleh menuntut dirimu berbuat baik kepada orang lain, namun jangan mengharapkan orang lain baik terhadapmu; bagaimana kamu memperlakukan orang lain, bukanlah berarti mereka akan memperlakukanmu sama, jika kamu tidak memahami ini, hanya akan menambah beban yang tak perlu dalam hidupmu.

08. 我买了26年的彩票,连三等奖也没有中过,这就证明人要发达,还是要努力工作才可以,世界上并没有免费的午餐。
08.Aku sdh membeli lotre selama 26 tahun, bahkan hadiah ke-3pun tak pernah aku dapatkan, membuktikan kemakmuran hanya dapat dihasilkan dari giatnya kita bekerja, tidak ada kekayaan yang turun dari langit.

09. 亲人只有一次的缘份,无论这辈子我和你会相处多久,你一定要珍惜共聚的时光,下辈子,无论我们爱与不爱,都不会再相见。
09.Keluarga hanyalah ikatan jodoh semata saja berapa lamapun aku dan kamu akan bersama, kamu tetap harus menghargai setiap waktu kebersamaan ini, di kehidupan selanjutnya apakah kita akan bertemu dan berberjodoh lagi kita semua pun tidak tahu.

Sent from The Milky Way

Selasa, 13 Januari 2015

Renungan Siang



KETIKA
Aku ingin hidup KAYA...
Aku lupa,
bahwa HIDUP itu sendiri adalah sebuah KEKAYAAN.

🌑🐝~KETIKA...
Aku takut MEMBERI...
Aku lupa,
bahwa SEMUA yang aku miliki juga adalah PEMBERIAN.

🌑🐝🌑~KETIKA...
Aku ingin jadi yang TERKUAT...
Aku lupa,
bahwa dalam KELEMAHAN....
Tuhan memberikan aku KEKUATAN.

🌑🐝🌑~KETIKA...
Aku takut RUGI...
Aku lupa,
bahwa  HIDUPKU...
Adalah sebuah KEBERUNTUNGAN, karena AnugerahNYA.

Ternyata hidup ini sangat indah...
ketika kita selalu BERSYUKUR kepadaNYA

🌑~BUKAN...
karena hari ini INDAH kita BAHAGIA...
Tetapi karena kita BAHAGIA...
maka hari ini menjadi INDAH.

🌑🐝~BUKAN...
karena tak ada RINTANGAN kita menjadi OPTIMIS...
Tetapi karena kita OPTIMIS...
RINTANGAN akan menjadi tak terasa.

🌑🐝🌑~BUKAN...
karena MUDAH kita YAKIN BISA...
Tetapi karena kita YAKIN BISA... semuanya menjadi MUDAH.

🌑🐝🌑~BUKAN...
karena semua BAIK kita TERSENYUM...
Tetapi karena kita TERSENYUM maka semua menjadi BAIK.

Tak ada hari yang MENYULITKAN kita, kecuali kita SENDIRI yang membuat SULIT.

🌑~BILA...
kita tidak dapat menjadi jalan besar...
cukuplah menjadi jalan setapak yang dapat dilalui orang.

🌑🐝~BILA...
kita tidak dapat menjadi matahari...
cukuplah menjadi lilin yang dapat menerangi sekitar kita.

🌑🐝🌑~BILA...
kita tidak dapat berbuat sesuatu untuk seseorang...
cukuplah berdoa untuknya
Rendahkan Hati ,maka akan menjadi org yang disegani 
Semangatlah ,maka  akan selalu Sukses
Bijaksanalah ,maka akan banyak meraih simpati.
Semoga bermanfaat..slm sukses..

Sabtu, 08 November 2014

Good Strory


Tahukah Anda,mengapa anak kecil tertawa ketika anda ayunkan ke atas?                                                    Karena ia tahu bahwa anda pasti akan menangkapnya & tidak akan membiarkannya jatuh.Itulah Keyakinan.
Begitupula keyakinan kepada ALLAH.                                   Walaupun keadaan buruk melempar kita,yakinlah bahwa kasih sayang Allah pasti akan menangkap kita sebelum kita terjatuh.      
                  
Have a Quality Time with your family.

Sabtu, 07 Juni 2014

Nice Story


Tua itu PASTI, tapi Dewasa itu PILIHAN 

Suatu malam, ibu yg bangun sejak pagi, bekerja keras sepanjang hari, membereskan rumah tanpa pembantu, jam tujuh malam ibu selesai menghidangkan makan malam utk ayah, sangat sederhana, berupa telur mata sapi, tempe goreng, sambal teri dan nasi. Sayangnya karena mengurusi adik yg merengek, tempe dan telor gorengnya sedikit gosong! Saya melihat ibu sedikit panik, tapi tdk bisa berbuat banyak, minyak gorengnya sdh habis. Kami menunggu dgn tegang apa reaksi ayah yg pulang kerja pasti sdh capek, melihat makan malamnya hanya tempe dan telur gosong. Luar biasa! Ayah dgn tenang menikmati dan memakan semua yg disiapkan ibu dgn tersenyum dan bahkan berkata, "Bu terima kasih ya!" Lalu ayah terus menanyakan kegiatan saya & adik di sekolah. Selesai makan, masih di meja makan, saya mendengar ibu meminta maaf krn telor & tempe yg gosong itu & satu hal yg tidak pernah sy lupakan adalah apa yg ayah katakan... "Sayang, aku suka telor & tempe yg gosong." Sebelum tidur, saya pergi untuk memberikan ciuman selamat tidur kpd ayah, saya bertanya apakah ayah benar-benar menyukai telur & tempe gosong?" Ayah memeluk saya erat dengan kedua lengannya & berkata, "Anakku, ibu sdh bekerja keras sepanjang hari & dia benar-benar sdh capek, Jadi sepotong telor & tempe yg gosong tidak akan menyakiti siapa pun kok!"  

Ini pelajaran yg saya praktekkan di tahun-tahun berikutnya... "Belajar menerima kesalahan orang lain, adalah satu kunci yg sangat penting utk menciptakan sebuah hubungan yg sehat, bertumbuh & abadi". 

Ingatlah emosi tdk akan pernah menyelesaikan masalah yg ada, jadi selalulah berpikir dewasa. Mengapa sesuatu hal itu bisa terjadi pasti punya alasannya sendiri. Janganlah kita menjadi org yg egois, yg hanya mau dimengerti, tapi tdk mau mengerti. Mari... belajar menjadi seorang yang DEWASA utk slalu menghargai pengabdian/pengorbanan mereka yg berusaha terus hanya memberi yg terbaik utk kita terimalah apa adanya semua berbahagia

Sent from The Milky Ways
Via Samsung Mobile

Rabu, 21 Mei 2014

Kasih Ibu

Seorang anak bertengkar denganibunya & meninggalkan rumah. Saat berjalan ia baru menyadari bahwa ia
sama sekali tidak membawa uang. Ia melewati sebuah kedai bakmi. Ia ingin sekali memesan semangkok bakmi karena lapar.
Pemilik bakmi melihat anak itu berdiri cukup lama di depan kedainya, lalu bertanya "Nak, apakah engkau ingin
memesan bakmi?" "Ya, tetapi aku tidak membawa uang, "jawab anak itu dengan malu-malu. "Tidak apa-apa, aku akan
mentraktirmu." jawab si pemilik kedai.
Anak itu segera makan. Kemudian air matanya mulai berlinang. "Ada apa Nak?" Tanya si pemilik kedai. "Tidak apa
-apa, aku hanya terharu karena seorang yg baru kukenal memberi aku semangkuk bakmi tetapi ibuku sendiri
setelah bertengkar denganku, seperti tidak peduli padaku. Kau seorang yang baru kukenal tetapi begitu peduli padaku.
Pemilik kedai itu berkata "Nak, mengapa kau berpikir begitu? Renungkan hal ini, aku hanya memberimu semangkuk
bakmi & kau begitu terharu…. Ibumu telah memasak bakmi, nasi, dan lain-lain sampai kamu dewasa, harusnya kamu
berterima kasih kepadanya.
Anak itu kaget mendengar hal tersebut. " Mengapa aku tidak berpikir tentang hal itu?"
Untuk semangkuk bakmi dari orang yang baru kukenal aku begitu berterima kasih, tetapi terhadap ibuku yang
memasak untukku selama bertahuntahun, aku bahkan tidak peduli.
Anak itu segera menghabiskan bakminya lalu ia menguatkan dirinya untuk segera pulang. Begitu sampai
di ambang pintu rumah, ia melihat ibunya dengan wajah letih & cemas. Ketika melihat anaknya, kalimat
pertama yang keluar dari mulutnya adalah "Nak, kau sudah pulang, cepat masuk, aku telah menyiapkan makan malam."
Mendengar hal itu, si anak tidak dapat menahan tangisnya & ia menangis di hadapan ibunya.

Semoga dengan ini kita dapat lebih merasakan setiap kasih yang diberikanoleh ibu.


Sent from The Milky Ways
Via Samsung Mobile

Selasa, 20 Mei 2014

Membangun Pertemanan yang Kokoh


Rabu, 21 Mei 2014 - Membangun Pertemanan Yg Kokoh | Amsal 17:17

Hubungan yang sehat akan berkembang bila ada:

Keterbukaan. Kita harus jujur kepada teman kita dan mendorong mereka untuk juga jujur kepada kita. Untuk mempertahankan ikatan yang kuat, kita tidak dapat menyembunyikan rasa sakit atau perasaan tertolak yang mungkin disebabkan oleh mereka. Transparansi disertai sikap bertanggung jawab dapat juga menolong setiap individu untuk menjadi pribadi yang lebih baik. 

Hubungan yang kokoh mengijinkan setiap pihak untuk dengan lembut menunjukkan kesalahan di kehidupan pihak yang lain dan mengoreksi mereka dengan penuh kasih. 

Waktu dan percakapan. Dibutuhkan waktu untuk membangun pertemanan yang tulus. Kita harus bersedia untuk mengesampingkan kewajiban lainnya dan memprioritaskan waktu yang dihabiskan bersama. Porsi waktu kita dengan teman kita harus dilewatkan dengan percakapan - berbicara tentang pemikiran dan keinginan kita dan juga menanyakan pertanyaan yang mendorong teman kita untuk terbuka. Percakapan semacam ini mengijinkan kita untuk mengetahui hati dan pikiran teman kita. 

Ucapan terima kasih. Setiap orang senang dihargai. Mengekspresikan ungkapan terima kasih saat teman kita begitu membantu akan mengingatkan mereka bahwa kita bersyukur memiliki mereka dalam kehidupan kita. Lebih dari itu, kita menegaskan kasih kita saat kita mengkomunikasikan betapa kita menikmati aspek tertentu dari kepribadian mereka atau mengingat suatu kejadian yang khusus bagi mereka. 


Sent from The Milky Ways
Via Samsung Mobile

Kamis, 15 Mei 2014

Pelajaran Hidup

Konon survey membuktikan: 
1. Sebuah smartphone, 70% fiturnya tidak terpakai (mubazir). 
 2. Sebuah mobil mewah, 70% speednya mubazir. 
3. Sebuah villa mewah, 70% luasnya dibiarkan kosong. 
 4. Sebuah Universitas, 70% materi kuliahnya tidak dapat diterapkan. 
 5. Seabreg kegiatan sosial masyarakat, 70% nya iseng tidak bermakna. 
 6. Pakaian dan peralatan dalam sebuah rumah, 70%nya nganggur tidak terpakai. 
 7. Seumur hidup cari duit banyak, 70% nya dinikmati ahli waris.

 "Hidup ini seperti pertandingan bola" 

  • Babak Pertama adalah masa muda. Menanjak karena Pengetahuan, Kekuasaan, Jabatan, Usaha Bisnis, dsb. 
  • Babak kedua adalah masa tua. Menurun karena Darah Tinggi, Trigliserid, Gula Darah, Asam Urat, Kolestrol.... dsb. 
  • Oleh sebab itu, Semoga kita selalu Waspada dari babak Awal hingga Akhir, dan ending dengan kemenangan….
Karena itu : 
  •  Tidak Sakit Juga Harus Check Up, 
  •  Tidak Haus juga harus Minum.
  •  Tidak Galau juga Harus Cari Solusi, 
  •  Benar Juga Harus Mengalah. 
  •  Powerfull juga Perlu Merendah, 
  •  Tidak Cape pun Perlu Rehat. 
  •  Tidak kaya pun Perlu Bersyukur
  • Sesibuk Apa pun Juga Perlu Olahraga. Sadarlah, Hidup itu Pendek, pasti ada Saatnya Finish! 
  • Jangan tertipu dengan usia MUDA, karena syarat mati tidak harus TUA ! Jangan terpedaya dengan tubuh dan badan SEHAT, karena syarat mati tidak mesti SAKIT. 
  • Teruslah berbuat baik, berkata baik, memberi nasihat yang baik, walaupun tidak banyak orang yg memahamimu. 
  • Jadilah seperti jantung, dia tidak terlihat,tetapi terus berdenyut setiap saat hingga membuat kita terus hidup sampai akhir hayat. AJAL Tak Mengenal Waktu, Usia, jadi... Terus Berbuat Baik dan menyampaikan Kebenaran terhadap Sesama. 
 Have a great day

Rabu, 26 Maret 2014

Lessons From Lincoln: 5 Leadership Tips History And Science Agree On



Lessons From Lincoln: 5 Leadership Tips History And Science Agree On

USA, Washington D.C., Lincoln Memorial statue, close-up 

Abraham Lincoln gets a lot of credit for being a great leader. And he deserves it, but…

Frankly, most of us don't really know why he deserves it.

What made him such an extraordinary leader? And does modern research back up his methods?

Here's what Honest Abe did, why it works and how it can make you a better leader.

1) Get Out Of The Office And Circulate Among The Troops

In 1861 Lincoln spent more time outside the White House than in it.

And it's believed he met every single Union soldier who enlisted early in the Civil War.

How's that for being an accessible leader?

Via Lincoln On Leadership: Executive Strategies for Tough Times:

As remarkable as it may seem, in 1861 Lincoln spent more time out of the White House than he did in it. And the chances are good that if a Union soldier had enlisted early in the Civil War, he saw the president in person. Lincoln made it a point to personally inspect every state regiment of volunteers that passed through Washington D.C., on their way to the front; and early in the war they all passed through Washington, D.C.

Lincoln knew people were his best source of information. And accessibility built trust. He spent 75% of the day meeting with people.

Lincoln had an open-door policy. Yeah, the President of the United States had an open-door policy.

Via Lincoln On Leadership: Executive Strategies for Tough Times:

Lincoln was probably the most accessible chief executive the United States has ever known… John Nicolay and John Hay, his personal secretaries, reported that Lincoln spent 75 percent of his time meeting with people. No matter how busy the president was, he always seemed to find time for those who called on him.

Guess what? Modern business theory backs him up.

These days the management gurus call it "Managing by Wandering Around." Seriously.

Via Lincoln On Leadership: Executive Strategies for Tough Times:

…Lincoln revealed the cornerstone of his own personal leadership philosophy, an approach that would become part of a revolution in modern leadership thinking 100 years later when it was dubbed MBWA (Managing by Wandering Around) by Tom Peters and Robert Waterman in their 1982 book In Search Of Excellence.

Lincoln was always trying to get the best information so he could make good decisions.

He was constantly emailing and texting on his iPhone… Umm, well, the 19th century equivalent of it, at least.

Via Lincoln On Leadership: Executive Strategies for Tough Times:

He virtually lived at the War Department's telegraph office so he could gain access to key information for quick, timely decisions.

What do CEO's of the modern era still spend much of their time doing?

The exact same thing Lincoln did: trying to get the information they need to make good decisions.

Via John P. Kotter on What Leaders Really Do:

The GMs do not limit their focus to planning, business strategy, staffing, and other "top management concerns." They discuss virtually anything and everything even remotely associated with their businesses and organizations…. In these conversations, GMs typically ask a lot of questions. In a half-hour conversation, some will ask literally hundreds.

(More on what all great leaders have in common here.)

2) Persuade Rather Than Coerce

Despite having the power of the presidency, Lincoln didn't strongarm people; he persuaded them. How did he do it?

He made them his friends. He made them like him. Here's Lincoln talking about his methods:

When the conduct of men is designed to be influenced, persuasion, kind, unassuming persuasion, should ever be adopted. It is an old and a true maxim, that a "drop of honey catches more flies than a gallon of gall." So with men, if you would win a man to your cause, first convince him that you are his sincere friend. Therein is a drop of honey that catches his heart, which, say what he will, is the great high road to his reason, and which, when once gained, you will find by little trouble in convincing his judgment of the justice of your cause, if indeed that cause really be a just one.

And it shows in the way he handled subordinates.

He didn't give orders — he made requests. Look at his letters:

To McClellan (10-13-63): "…This letter is in no sense an order."

To Halleck (9-19-63): "I hope you will consider it…"

To Burnside (9-27-63): "It was suggested to you, not ordered…"

Does the modern research agree? Oh yeah.

What's the #1 thing Harvard Business School teaches it's MBA students about negotiation?

"They need to like you."

About 3:30 into the video below:

Here's the equation for getting what you want. Cutting to the chase: You want to get more. You want more money, a better offer, a better deal; here are the components of what you need to do. First, they need to like you. That's the first component. The things you do that make them like you less make it less likely that you are going to get what you want…

From my interview with Bob: Liking is one of fundamental principles that leading persuasion expert Robert Cialdini's detailed in his classic book, Influence.

No surprise that people prefer to say yes to a request to the degree that they know and like the requester. A simple way to make things happen in your direction is to uncover genuine similarities or parallels that exist between you and the person you want to influence, and then raise them to the surface. That increases rapport.

Lincoln has a famous quote on the subject:

I destroy my enemies when I make them my friends.

(Learn the methods hostage negotiators use to bond with hostage takers here.)

3) Lead By Being Led

Lincoln always gave credit where credit was due and took responsibility when things went wrong.

Via Lincoln On Leadership: Executive Strategies for Tough Times:

Not only did this satisfy Lincoln's need for honesty, integrity and human dignity; it also gave his subordinates the correct perception that they were, in many ways, doing the leading, not Lincoln. If nothing else, it made them feel good about their jobs. It also encouraged innovation and risk taking because they knew that if they failed, Lincoln would not blame them.

By doing this he dodged what Harvard professor Gautam Mukunda says is the most common leadership mistake: hubris.

Lincoln had no problem saying he screwed up, like in this letter to General Ulysses S. Grant:

I write this now as a grateful acknowledgement for the almost inestimable service you have done the country. I wish to say a word further. When you reached the vicinity of Vicksburg… I never had any faith, except a general hope that you knew better than I that the expedition could succeed… I feared it was a mistake. I now wish to make the personal acknowledgement that you were right, and I was wrong.

He trusted the judgment of the people who were on the front lines. This is one of the hallmarks of good military leadership.

Looking at the research, what type of leadership works in the toughest situations?

Lincoln's method: being democratic and listening.

Via Bold Endeavors: Lessons from Polar and Space Exploration:

During the early 1960s, the Navy Medical Neuropsychiatric Research Unit (now the Naval Health Research Center) conducted a series of studies concerning leadership at small Antarctic stations. In that research program, Nelson (1962) found that esteemed leaders tended to possess a relatively democratic leadership orientation and a leadership style characterized by greater participation in activities than traditional for a military organization. Further, the esteemed leaders developed individual relationships with each of their crew members and reportedly sought the opinions of individual crew members about issues directly concerning them.

Leaders take note: research shows that not worrying about who gets the credit for an idea is key to influencing people.

And the greatest minds of history agree. As Lao Tzu said:

Fail to honor people, they fail to honor you. But of a good leader, who talks little, when his work is done, his aim fulfilled, they will all say "We did this ourselves."

(Learn what type of leader you are here.)

4) Encourage Innovation

Lots of lip service is paid to encouraging innovation these days. What did Lincoln know about innovating?

Well, he's the only U.S. President to ever patent something.

Via Lincoln On Leadership: Executive Strategies for Tough Times:

Years before assuming the presidency, Lincoln had shown his interest in innovation when, on March 10, 1849 (at age forty), he received a patent for a new method of making grounded boats more buoyant.

What does it take to increase creativity and innovation in an organization? As I've said before, it's pretty straightforward:

Reward people for trying new things and don't punish them for failure.

Lincoln knew this.

Via Lincoln On Leadership: Executive Strategies for Tough Times:

And even during his most difficult times, Lincoln continued to call on his subordinates to screen new advances, implement ideas, and win while learning. He realized that, as an executive leader, it was his chief responsibility to create the climate of risk-free entrepreneurship necessary to foster effective innovation.

(More on the single most proven way to innovate here.)

5) Influence People Through Storytelling

By all accounts, Lincoln was a great storyteller and he actively leveraged this skill to win people over.

Lincoln himself said it plainly:

They say I tell a great many stories. I reckon I do; but I have learned from long experience that plain people, take them as they run, are more easily influenced through the medium of a broad and humorous illustration than in any other way…

And research from Stanford backs him up.

Facts and statistics are great but when people hear presentations what do they remember? The stories.

Via Made to Stick: Why Some Ideas Survive and Others Die:

When students are asked to recall the speeches, 63 percent remember the stories. Only 5 percent remember any individual statistic.

If you're a leader as Lincoln was, you need to know what studies show inspires team morale. And the answer is great stories:

"Institutions that can communicate a compelling historical narrative often inspire a special kind of commitment among employees. It is this dedication that directly affects a company's success and is critical to creating a strong corporate legacy," said author Adam Galinsky, Morris and Alice Kaplan professor of ethics and decision in management.

As I've posted many times, storytelling can improve almost every area of your life. Why is storytelling so powerful?

Stanford professor Jennifer Aaker has done research showing stories are key to our sense of meaning:

Some new studies suggest if we spend time thinking about stories in our lives, that might be a more effective way of figuring out what is meaningful versus not.

(More on how to tell great stories from a UCLA film school professor here.)

Sum Up

Leadership lessons you can learn from Lincoln:

1.   Get Out Of The Office And Circulate Among The Troops

2.   Persuade Rather Than Coerce

3.   Lead By Being Led

4.   Encourage Innovation

5.   Influence People Through Storytelling

There's a lot to learn from Lincoln.

And people didn't just love Honest Abe because he was a wise leader; he also had a good sense of humor:

If I were two-faced, would I be wearing this one?

 

Minggu, 16 Maret 2014

How To Make Friends Easily And Strengthen The Friendships You Have



How To Make Friends Easily And Strengthen The Friendships You Have

Friends

Friendship is a good thing. That's hardly front-page news — but somehow we all forget how important it is.

We take friends for granted. As we raise families we neglect friends. We don't put in the effort to make and keep friends.

And the problem is growing. In 1985 most people said they had 3 close friends. In 2004 the most common number was zero.

Via Social: Why Our Brains Are Wired to Connect:

In a survey given in 1985, people were asked to list their friends in response to the question "Over the last six months, who are the people with whom you discussed matters important to you?" The most common number of friends listed was three; 59 percent of respondents listed three or more friends fitting this description. The same survey was given again in 2004. This time the most common number of friends was zero. And only 37 percent of respondents listed three or more friends. Back in 1985, only 10 percent indicated that they had zero confidants. In 2004, this number skyrocketed to 25 percent. One out of every four of us is walking around with no one to share our lives with.

This is sad, and for more reasons than you might expect. We need friends to keep us healthy. Lack of social support predicts all causes of death.

Having few friends is more dangerous than obesity and is the equivalent health risk of smoking 15 cigarettes a day.

Via Friendfluence: The Surprising Ways Friends Make Us Who We Are:

Julianne Holt-Lunstad, Ph.D., professor of psychology at Brigham Young University, did a meta-analysis of 148 studies and concluded that a lack of social support predicts all causes of death. People with a solid group of friends are 50 percent more likely to survive at any given time than those without one. Holt-Lunstad calculated that having few social ties is an equivalent mortality risk to smoking fifteen cigarettes a day and even riskier than being obese or not exercising!

You need friends for self-knowledge — because your friends often know more about you than you do.

Via Friendfluence: The Surprising Ways Friends Make Us Who We Are:

They can truly know us, sometimes better than we know ourselves. Specifically, friends are better at describing our behavioral traits than we are, says Simine Vazire, Ph.D., a psychologist who runs the Personality and Self-Knowledge Lab at Washington University in St. Louis. "Friends can assess whether we are funny, dominant, or charming better than we can," she says. They may not be better than we are at knowing what we are feeling and thinking, unsurprisingly, but they are superior at guessing our IQs. (Incidentally, it's often the case that we judge ourselves as less intelligent than we are.)

And friends make you happier than pretty much anything else in life.

Got three friends at work? You're 96% more likely to be extremely satisfied with your life.

Happiness is contagious. Happy friends boost your chance of happiness by 15%. Unhappy friends decrease it by 7%.

Each additional friend means two fewer days of feeling lonely every year. Family members don't even move the needle here.

Via Friendfluence: The Surprising Ways Friends Make Us Who We Are:

If you can count at least three dear friends at the office, you are 96 percent more likely to be extremely satisfied with life in general…

Fowler and Christakis found that you are about 15 percent more likely to be happy if one of your friends is happy (overall, not in any particular moment). Even if a friend of your friend is happy, you're 10 percent more likely to be in a contented state. "We found that each happy friend a person has increases that person's probability of being happy by about 9 percent. Each unhappy friend decreases it by 7 percent," they write. Since these stats imply that happiness is more contagious than unhappiness, they conclude that "the more, the merrier" holds true, despite what is usually said about quality over quantity in friendships. They also found that an additional friend amounts to two fewer days of feeling lonely each year. "Since on average (in our data) people feel lonely forty-eight days per year, having a couple of extra friends makes you about 10 percent less lonely than other people. Interestingly, the number of family members has no effect at all."

Having a friend you see on most days is the happiness equivalent of an extra 100K a year.

Via Social: Why Our Brains Are Wired to Connect:

…having a friend whom you see on most days, compared to not having such a friend, had the same impact on well-being as making an extra $100,000 a year.

Marriage And Kids Aren't Enough

Researchers have been seeing a trend: increasingly, people expect to get all their social needs met by their spouse or partner.

This is a prescription for disaster. It's too much pressure for a spouse and there's much that we can only get from friends.

Nobel Prize winner David Kahneman did research showing time with friends is more enjoyable than time with spouses or children.

Via Friendfluence: The Surprising Ways Friends Make Us Who We Are:

Nobel Prize winner Daniel Kahneman, Ph.D., of Princeton, and colleagues conducted an innovative study about a decade ago that captured people's happiness "in the moment" as they went about their daily lives. They found, controversially, that time with friends is even more enjoyable than moments with spouses or children.

Not that there's anything wrong with spouses and kids but time with friends does not involve the same responsibilities — and we all need a break.

Beyond that, time with friends as a couple has been shown to improve long term relationships.

Via Friendfluence: The Surprising Ways Friends Make Us Who We Are:

Most intriguing was how couples rated their own relationships more positively after interacting with other pairs. Married partners fall into routine interactions and often fail to make the effort to entertain and please as they did when they were winning each other over. Putting your best self forward for new friends allows you to shine and to see your partner through new eyes as she shines, too. Maintaining older mutual friendships also strengthens the bond between long-term partners: Having people around who think of the two of you as a unit, who admire your relationship, and who expect you to stay together can sustain you through times of doubt or distance.

And You Will Lose Friends

Within seven years, half of your close friends will not be around anymore.

Via Friendfluence: The Surprising Ways Friends Make Us Who We Are:

A study by a Dutch sociologist who tracked about a thousand people of all ages found that on average, we lose half of our close network members every seven years. To think that half of the people currently on your "most dialed" list will fade out of your life in less than a decade is frightening indeed.

So if you want to keep close friends in your life, it'll take some effort. But what do you need to do?

Here's what some of the latest research has to say.

What To Do

Most importantly, make the time.

What are the most common friendship fights about? Time commitments.

Via Friendfluence: The Surprising Ways Friends Make Us Who We Are:

Daniel Hruschka reviewed studies on the causes of conflict in friendship and found that the most common friendship fights boil down to time commitments. Spending time with someone is a sure indicator that you value him; no one likes to feel undervalued.

This is also the part of friendship that makes us happiest — doing things together.

Via Friendfluence: The Surprising Ways Friends Make Us Who We Are:

It's no news flash that friends make us happy, but Meliksah Demir, Ph.D., a professor at Northern Arizona University, has drilled down to reveal exactly what about friendship warms our hearts. It turns out that companionship— simply doing things together— is the component of friendship that most makes us happy. And the reason friends make us happy, Demir has concluded, is that they make us feel that we matter.

Mere proximity — being nearby, is one of the most powerful drivers of friendship — far more than personality. So be around.

Via Friendfluence: The Surprising Ways Friends Make Us Who We Are:

Yet research does not show that friends are particularly alike in personality, granting scientific credibility to hundreds of romantic comedies wherein the uptight leading lady has a free spirit for a sidekick and the charismatic main man has a buffoonish buddy…Half a century ago, researchers came up with the "proximity theory" of friendship— that we befriend people who live geographically close to us or who frequently cross our path because they go to our school, grocery store, office, or favorite diner. Proximity, first and foremost, grants easy opportunities to meet. But also, familiarity breeds positivity. Called the "mere-exposure effect," it's a phenomenon that is widely documented: Just seeing someone over and over can make you like him or her more.

What else do you need to do? Be patient. If you're not willing to be bored sometimes, you can't have friends.

Via Friendfluence: The Surprising Ways Friends Make Us Who We Are:

'If you're not willing to be bored sometimes, you can't have friends,' " Jacob says. "Sometimes friends are going to drone on about their mother or something that you don't quite care about. But it's not just about what they can do for you, it's a deeper thing. You can't expect to always be entertained, or to always feel like everything is one hundred percent reciprocal." Jacob, who likes to entertain, says, "I'm willing to invite someone to dinner ten times and never see their house, because if you get into the cycle of pettiness, you won't end up having any friends."

Be flexible. Having social skills means adapting to your environment, not stubbornly "being who you are."

Via Friendfluence: The Surprising Ways Friends Make Us Who We Are:

Children who are natural social stars, Rubin adds, present themselves "successfully to others by putting on somewhat different faces for different audiences.… They understand when to put on which face, without ever appearing shallow or false to others and without feeling like fakes or frauds. In short, these are children who are sensitive and responsive to social cues." This is the child who knows how to work the room with jokes or dance moves at her own birthday party with her adoring relatives, but who also knows to hang back and let a friend shine at his birthday party.

And this one is key: Support the person's view of themselves and make them feel good about their pursuits.

Via Friendfluence: The Surprising Ways Friends Make Us Who We Are:

Best friends don't have to share an identity per se, but they do need to support the other's view of himself and make each other feel great about their pursuits. Weisz asked a group of college freshmen about their close friends and used questionnaires to determine whether they received social identity support from them. She then followed up five years later, when the students had graduated and moved off campus. Social identity support didn't predict whether the friendships generally endured, but it did predict whether one of the friends became a best friend. Part of maintaining a close friendship, Weisz points out, is supporting someone's identity as it inevitably shifts over time.

My theory on this: be a cheerleader for your friends.

Be their biggest fan.

This is what we all want from our friends. And the more you give it, the more you will get it yourself.

 

Senin, 24 Februari 2014

Renungan Harian


Ada seorang dermawan yg menebar uang
Rp. 5.000,-
Rp. 10.000,-
Rp. 20.000,-
Rp. 50.000,-
&
Rp. 100.000,-
dari atas gedung

Dibawah gedung berkerumun banyak orang sibuk saling berebut memunguti uang yg berserakan
"TANPA ADA YG PEDULI" sumber uang itu dari SIAPA

Suatu saat,
Sang Dermawan naik lagi keatas gedung tersebut & kali ini beralih menebar krikil kecil kedalam kerumunan orang dibawah;
ada yg terkena di kepala,
bahu,tangan,punggung &
anggota tubuh lainnya,
mereka panik & marah, menengadah keatas berusaha "MENCARI TAHU"
sumber dari krikil dijatuhkan ??.

Itulah sikap dari kebanyakan manusia,saat BERKAT ( hal yg menguntungkan ) datang semua sibuk tanpa peduli siapa yg MEMBERI, & sedikit sekali yg MAMPU dan MAU mengucap SYUKUR.

Namun saat MASALAH datang maka semua akan spontan mencari sumber Masalah dan BIANG KEROK & marah menyalahkan orang lain tanpa mau cari solusi lagi.

"Apakah kita hanya mau menerima yang baik saja, tetapi tidak mau menerima yang buruk?"

Tanpa mau tahu bahwa hidup ini sudah satu paket, baik & buruk, senang & susah, semuanya satu kesatuan yang tak terpisahkan.

Bila suatu ketika anda
"kena giliran"
menjalani hal-hal buruk dan susah , maka jalanilah dgn tabah dan tetap Bersyukurlah ....... karena hanya itu kuncinya . 

Sent from The Milky Ways
Via Samsung Mobile

Minggu, 23 Februari 2014

Lunch with God


Lunch with God

    There once was a little boy who wanted to meet God. He knew it was a long trip to where God lived, so he packed his suitcase with cookies and a six-pack of root beer, and he started his journey.
    When he had gone a few blocks from home, he met an old man. He was sitting in the park near the water, just staring at some birds.
    The boy sat down next to him and opened his suitcase. He was about to take a drink from his root beer, when he noticed that the old man looked hungry, so he offered him a cookie.
    The old man gratefully accepted it and smiled at him. His smile was so incredible that the boy wanted to see it again, so he offered him a root beer.
    Once again, he smiled at him. The boy was delighted! They sat there all afternoon eating and smiling, but they never said a word.
    As it grew dark, the boy realized how tired he was, and he got up to leave. But before he had gone more than a few steps, he turned around, and ran back to the old man, and gave him a hug. The old man gave him his biggest smile ever.
    When the boy opened the door to his own house a short time later, his mother was surprised by the look of joy on his face. She asked her son: "What did you do today that made you so happy?"
    The child replied: "I had lunch with God." But before his mother could respond, he added, "You know what? He's got the most beautiful smile I've ever seen!"
    Meanwhile, the old man, also radiant with joy, returned to his home. His son was stunned by the look of peace on his face and asked, "Dad, what did you do today that made you so happy?"
    He replied: "I ate cookies in the park with God." But before his son responded, he added, "You know, He's much younger than I expected."
    Too often we underestimate the power of a touch, a smile, a kind word, a listening ear, an honest compliment, or the smallest act of caring-all of which have the potential to make someone's day a very special one, or even turn someone's life around. 

Sent from The Milky Ways
Via Samsung Mobile